Pages

Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Januari 2011

Ceramah Sunda

KH. A.F. Ghazali, da’i kondang yang sangat dicintai oleh umat. Dalam ceramahnya, KH. A.F. Ghazali lebih banyak menggunakan bahasa Sunda. Beliau selalu menggunakan bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat, pandai dalam membuat analogi yang bisa dimengerti. Maret 2008 lalu sebuah buku unik berjudul The People`s Religion : The Sermons of A.F. Ghazali (Agama Rakyat: Ceramah-ceramah A.F. Ghazali) diluncurkan. Buku tersebut merupakan hasil transkripsi dari ceramah-ceramah sang dai yang selama ini terdokumentasikan dalam bentuk rekaman kaset. buku yang ditulis Julian P. Millie –peneliti dari Monash University Australia– memilih empat tema sebagai topik yang ditulis, “Ayat-ayat Allah”, “Ngabageakeun Muharam”, “Tobat”, dan “Tugas Risalah”. Hasilnya adalah satu format buku bilingual, bahasa Sunda danbahasa Inggris.
  1. KH. AF. Ghazali – Abdina Alloh
  2. KH. AF. Ghazali – Keridloan Ilahi
  3. KH. AF. Ghazali – Kufur Nikmat
  4. KH. AF. Ghazali – Sumber bahagia
  5. KH. AF. Ghazali – Taqwa
  6. KH. AF. Ghazali – Tilu Tugas Hirup
  7. KH. AF. Ghazali – Tobat
  8. KH. AF. Ghazali – Tugas Risalah
  9. KH. AF. Ghazali – Takut Kepada Alloh 
Sumber : http://manuskripkesunyian.wordpress.com


Share

Kamis, 13 Januari 2011

Jagalah Lisanmu

u’az bin Jabal ra bertanya tentang perbuatan yang dapat memasukkan ke surga dan menjauhkan dari neraka. Rasululloh saw bersabda: …beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya sedikitpun, shalat, zakat, puasa Ramadhan dan haji. Pintu-pintu surga adajah puasa, sodaqoh dan shalat malam. Pokok segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah Jihad. Sesuatu dapatmembuat kalian memiliki semua itu. Rasulullah memegang lidahnya lalu bersabda: Jagalah ini. Muadz bertanya: Ya Nabi, apakah kita akan dihukum atas apa yang kita ucapkan? Beliau bersabda: …adakah yang menyebabkan seseorang terjungkal wajahnya di neraka selain buah dari lisan mereka (HR Tirmizi)

Sahabat bertanya tentang seorang wanita ahli sholat malam namun suka menganggu tetangga dengan lisannya. Rasulullah berkata,” Dia di neraka!” Kemudian sahabat bertanya tentang seseorang yang sedikit ibadahnya namun tidak suka menganggu tetangga dengan lisannya. Rasulullah bersabda,”Dia di surga!”.

Hati-hati dengan Lisan

Lisan jauh lebih tajam dari pedang. Luka karena pedang dapat disembuhkan. Luka karena lisan akan terus terkenang. Doa orang yang terzalimi cepat diijabah Allah. “Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dua lubang, yaitu mulut dan farji” (HR Tirmidzi).

“Orang yang paling banyak dosanya di hari kiamat adalah orang yang paling banyak terlibat dalam pembicaraan batil” (HR Ibnu Abiddunya.)

“Seorang hamba jika berbicara dengan satu kalimat yg tidak benar maka tergelincir ke neraka yg lebih jauh antara timur dan barat.”. “Sesungguhnya ada orang yang bicara dengan ucapan yang Allah murkai, ia tidak menduga akibatnya, lalu Allah catat itu dalam murka Allah hingga hari kiamat”(HR Ibnu Majah)

"Tidak istiqomah iman seseorang sebelum istiqomah hatinya, dan tidak akan istiqomah hatinya sebelum istiqomah lisannya"(HR Ahmad).

Kejahatan Lisan

Lisan menimbulkan 2 bencana besar. Pertama: diam terhadap kebenaran (setan bisu).“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka rubahlaha dengan lisannya…”. Kedua: bicara yang bathil (setan bicara). Kejahatan lisan bermacam-macam bentuknya.
Ghibah. "Engkau membicarakan saudaramu tentang hal yang dia benci. Jika benar ada padanya maka engkau telah ghibah…" (HR. Muslim). Ghibah termasuk dosa besar yang tak diampuni Allah sebelum dimaafkan oleh orang ybs. Ketika mi'raj, Rasul melihat kaum yang berkuku tembaga mencakar wajah dan dada mereka. Jibril mengatakan: “Mereka telah memakan daging orang dan mencela kehormatan orang”.

Di masa Rasulullah saw ada 2 wanita yang hampir pingsan karena puasa Ramadhan. Ketika ditanyakan tentang kebolehan membatalkan puasa, beliau malah memberi mangkok dan memerintahkan untuk memuntahkan apa yang telah mereka makan ke dalam mangkok. Mereka memuntahkan darah segar dan daging lunak hingga mangkok penuh. Mereka membatalkan puasa dengan melakukan larangan Alloh, yaitu bergunjing”.

Fitnah (membicarakan aib orang tetapi tidak ada faktanya), dosanya lebih keji daripada membunuh (QS Al-Baqoroh:217).

Naminah/adu domba (menyebarkan ucapan satu kaum kepada kaum yang lain untuk merusak keduanya). "Tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba” (HR Bukhari)

Mengutuk/melaknat. “Siapa yang melaknat seorang Mukmin maka ia seperti membunuhnya” (HR Bukhari). Ucapan laknat bisa kembali kepada orang yang mengucapkannya”.

Mencela/mencaci Maki. “Janganlah kalian mencaci orang-orang yang telah meninggal karena mereka telah menemui (balasan dari) perbuatan mereka.” (HR Bukhari).” ” Para sahabat bertanya : “Bagaimana seseorang mencaci maki orang tua sendiri? Jawab Nabi: “Dia mencaci maki orang tua orang lain, lalu orang itu berbalik mencaci maki orang tuanya”(HR Ahmad). “Jika ada orang yang mencela kekuranganmu, jangan kau balas dengan mencela kekurangannya. Maka dosanya ada padanya dan pahalanya ada padamu. Janganlah kamu mencaci maki siapapun” (HR Ahmad.)

“Tidak tersesat suatu kaum setelah mendapat hidayah kecuali mereka berdebat” (HR Tirmidzi). Imam Malik berkata : “Perdebatan akan mengeraskan hati dan mewariskan kekesalan”.

“Orang yang paling dibenci Allah adalah yang suka bermusuhan dan bertengkar”(HR Al Bukhari)

“Orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di hari kiamat adalah yang buruk akhlaknya, yaitu banyak bicara, menekan-nekan suara, dan menfasih-fasihkan kata”(HR Ahmad)

“Orang mukmin bukanlah orang yang suka menghujat, mengutuk, berkata keji dan jorok” (HR Tirmidzi)

“Barang siapa yang mencela dosa saudaranya yang telah bertaubat, maka ia tidak akan mati sebelum melakukannya” (HR Tirmidzi). “Jangan mencela makanan yang sudah tersaji” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

"Orang-orang yang memperolok-olok manusia akan dibukakan pintu surga. Lalu dikatakan kepadanya, "Mari, marilah!" Orang itu datang dengan kesusahan dan kegundahannya. Ketika sampai, pintu surga itu terkunci buat dia. Terus menerus demikian, sehingga pintu itu dibukakan bagi orang tersebut, lalu dikatakan kepadanya. "Mari, Marilah!", Maka ia tidak datang lagi ke pintu itu"(HR. Ibnu Abi Dunya)

Menceritakan rahasia suami-isteri. “Orang yang paling buruk tempatnya di hari kiamat, adalah laki-laki yang telah menggauli istrinya, kemudian ia ceritakan rahasianya”(HR. Muslim)

“Dusta akan mendorong untuk curang. Kecurangan akan mendorong ke neraka. Orang yang berdusta akan terus berdusta hingga dicatat Allah sebagai pendusta” (Muttafaq alaih.). "Tiga ciri orang munafik, apabila bicara berdusta, apabila berjanji mengingkari dan apabila dipercaya berkhianat” (HR Bukhari dan Muslim). “Sesungguhnya orang munafik itu tempatnya di kerak neraka”.

Kesaksian palsu. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS al Isra:36). Qotadah berkata, “Jangan mengatakan ‘Aku melihat demikian’ padahal tidak melihatnya, ‘Aku mendengar demikian’ padahal tidak mendengarnya, ‘Aku tahu demikian’ padahal tidak mengetahuinya”.

Gurauan bohong. “Ada orang yang mengucapkan kata-kata agar teman-temannya tertawa namun kata-kata itu menjerumuskannya (ke neraka)…”(HR Ahmad). “Celaka orang berbicara dusta untuk ditertawakan orang…” (HR Abu Dawud dan At Tirmidzi).

“Jauhilah olehmu perbuatan hasud, karena menghilangkan kebaikan seperti api memakan kayu bakar”.

Tips Menjaga Lisan.

Muslim yang paling baik adalah, “Seseorang yang membuat muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR Muslim). Mereka menjaga lisannya dari segala ucapan yang bisa menyakiti hati orang.

Tidak menghina. "Hai orang-orang yang beriman! Janganlah segolongan kalian menghina golongan yang lain, boleh jadi (mereka yang dihina) lebih baik (dari yang menghina)" (QS. Al Hujurat 49:11).

Tidak su’udzon. Selalu husnudzan (berbaik sangka). “…jauhilah kebanyakan prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa” (QS Al Hujurat: )

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam” (HR Bukhari Muslim). Bila bicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah diam. Pembicaraan yang mubah bisa masuk dalam pembicaraan yang haram/dibenci”.

“Setiap ucapan Bani Adam membahayakan dirinya, kecuali amar ma’ruf nahi munkar dan Dzikrullah” (HR Trimidzi)

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata, “ Sesungguhnya aku termasuk muslim.” (QS. Al Fushilat : 33)

Dengarkan pembicaraan yang haq. Jika mendengar kebatilan, kita harus menolong orang yang zalim dan dizalimi dengan mengalihkan pembicaraan, menghentikan, atau meninggalkannya.

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan mereka kecuali bisikan dari orang yang menyuruh bersedekah, berbuat ma'ruf, atau perdamaian di antara manusia” (QS.4:114)

Imam Asy-Syafi'I berkata, "Berpikirlah dahulu sebelum bicara. Jika maslahat bicaralah. Jika mudharat/ragu-ragu, diamlah. Manusia diberi dua telinga dan satu mulut supaya lebih banyak mendengar daripada bicara.

“Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali diam namun berpikir atau berbicara dengan ilmu.” Sufyan Ats-Tsauri

Ibnu As-Sammak berkata, "Binatang buasmu ada di lisanmu, karena bisa menfitnah siapa saja yang lewat di depanmu, kecuali tiga hal yang menghalangimu; menyebut perkara yang ada padamu, menyebut perkara dimana kesalahanmu lebih darinya, menyebut urusan dimana Allah telah memaafkanmu.

"…berkatalah dengan perkataan yang benar". (QS Al Baqarah:263)

Berkata sesuai tempatnya. Tiap perkataan ada tempat terbaiknya dan tiap tempat ada perkataan terbaiknya.

Tidak kasar dalam berbicara. Hati-hatilah, kadang kelihatannya seperti memberi nasehat tetapi ternyata mencaci maki (mengutuk/mencela) anak/suami/istri/murid/bawahan.. Ketika ada orang kafir terbunuh dalam perang Badar, Nabi bersabda : "Janganlah kamu memaki mereka, karena dapat menyakiti orang-orang yang hidup" (HR An Nasai)

Berkata yang bermanfaat. "Diantara tanda kebaikan akhlak muslim adalah meninggalkan apa yang tidak perlu"(HR Tirmidzi). "Demi Allah Aku tidak suka menceritakan tentang seseorang". (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Sumber : Sahabat Muslim Berbagi Share

Selasa, 04 Januari 2011

Menangislah

Assalammu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh...

Saudaraku, sahabat....
Didalam jiwa kita ternyata memiliki energi yang perlu disalurkan. Mungkin terasa aneh buat kita, namun dalam kenyataannya kita membutuhkannya. Salah satu bentuk penyalurannya adalah dengan menangis.

Dengan menangis membuat kita menjadi lebih lega setelah mengalami proses kehidupan. Dengan menangis membuat kita menjadi tabah. Dan dengan menangis membuat kita menjadi sadar bahwa semuanya telah terjadi dan kita harus tabah menerima semuanya.

Apakah menangis itu dilarang oleh syariat?

Yang dilarang dalam agama adalah meratap. Agar dibedakan antara menangis dengan meratap. Tidak setiap menangis itu meratap, tapi meratap bisa dilakukan dalam bentuk tangis.

Amirul Mukminin Umar radiyallahu 'anhu berkata, "Biarkanlah mereka menangisi Abu Sulaiman, asalkan tidak menaburkan tanah di atas kepala dan tidak berteriak-teriak." (Di-maushul-kan oleh Imam Bukhari dalam at-Tarikh dan Ibnu Sa'ad. Abu Sulaiman adalah sebutan bagi Khalid bin Walid radiyallahu 'anhu. Perkataan ini diucapkan Umar ketika datang berita wafatnya Khalid dan para wanita berkumpul menangisinya).

Bahkan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam juga menangis sesuai Hadis riwayat Abdullah bin Umar radiyallahu 'anhu, ia berkata: Saad bin Ubadah mengalami sakit keras, lalu Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abu Waqqash dan Abdullah bin Masud. Ketika beliau tiba, beliau mendapatinya dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bertanya: "Apakah ia telah meninggal dunia?"

Orang-orang yang hadir di sana menjawab: "Belum, ya Rasulullah".

Kemudian Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menangis. Ketika para sahabat melihat tangis Rasulullah, mereka ikut menangis.

Lalu Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidakkah kalian mendengar bahwa sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena air mata dan atau karena kesedihan hati. Tetapi Dia menyiksa atau mengasihi sebab ini. Beliau menunjuk ke lidah beliau (maksudnya karena ratapan yang diucapkan lidah karena menolak qada dan takdir Allah atas si mayit)".

(Shahih Muslim No.1532)

Suatu ketika Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam berkhutbah di hadapan para sahabat, beliau bersabda," Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." Kemudian para sahabat menutup wajah mereka dan mereka menangis. (Muttafaq `Alaihi)

Dalam sebuah hadits beliau bersabda yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radiyallahu 'anhu, "Tidak akan masuk neraka seorang laki-laki yang menangis karena takut pada Allah Subhanahu wa ta'ala sehingga air susu kembali masuk ke dalam puting..." (H.R Tirmidzi)

Sabda beliau juga, "Tujuh golongan yang akan mendapat naungan dari Allah Subhanahu wa ta'ala pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, diantara mereka itu adalah; seorang laki-laki yang mengingat Allah Subhanahu wa ta'ala dikala sendiri kemudian mengalir deraslah air matanya." (Muttafaq `Alaihi)

Abu Bakar radiyallahu anhu dikenal sebagai seorang sahabat al-bakka`yaitu orang yang sering menangis. Aisyah radiyallahu 'anha berkata,"Sesungguhnya Abu Bakar adalah laki-laki yang hatinya lembut, apabila ia membaca al-Qur`an ia selalu menangis."

Dari Abu Umamah Shuday bin `Ajlan al-Bahiliy r.a Nabi Shalallhu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah dari dua tetesan. Beliau menyebutkan, satu diantaranya adalah tetesan air mata yang keluar karena takut pada Allah Subhanahu wa ta'ala." (H.R Tirmidzi)

Begitu banyak hadits-hadits Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam dan kisah-kisah as-salaf as-shalih yang menerangkan tentang keutamaan menangis karena takut pada Allah azza wa jalla.

Saudaraku, sahabat...
Bagaimana dengan diri kita?
Setiap diri lebih mengetahui keadaannya masing-masing.
Sudah seberapa banyakkah air mata kita menetes ketika mengingat Allah Subhanahu wa ta'ala?
Ketika sedang sendiri dan mengingat dosa serta kesalahan, ketika menyadari telah sering lalai dari perintah Allah ta'ala?

Sudah seberapa seringkah air mata kita tumpah ketika membaca ayat-ayat Allah Subhanahu wa ta'ala? Ketika diingatkan dengan kematian dan dengan siksa-Nya?

Mari kita menangis karena takut pada Allah azza wa jalla...
Menangis bukan selamanya tanda cengeng, tapi tangisan yang keluar karena kebaikan adalah pertanda kebesaran jiwa, tanda kesadaran akan hakekat diri yang sesungguhnya, tanda cinta yang tulus dan tanda seorang mengenal Tuhannya.

Semoga kita tidak malu menangisi dosa-dosa dan kesalahan kita selama ini...

Billahi taufiq wal hidayah
Wasalammu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Semoga bermanfaat
Sumber : Sahabat Muslim Berbagi Share

Mengolah Kebencian Menjadi Cinta

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Disaat kehidupan penuh kebahagiaan, tiba-tiba dihempas oleh peristiwa yang mengejutkan. Kita kehilangan orang yang kita cintai atau kehilangan kedudukan,
Share

SEDEKAH Tidak Harus Dengan Harta (Hadist)

Dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu

Bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah membawa pahala (yang banyak), mereka shalat bagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta-harta mereka.”

Beliau bersabda,
“Bukankah Allah subhanahu wata’ala menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan?
Sesungguhnya setiap TASBIH adalah sedekah,
setiap TAKBIR adalah sedekah,
setiap TAHMID adalah sedekah,
setiap TAHLIL adalah sedekah,
memerintahkan hal yang ma’ruf adalah sedekah.
Dan salah seorang dari kalian melampiaskan syahwatnya kepada istrinya adalah sedekah.”

Mereka bertanya, “Salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya, apakah pada hal itu ia akan mendapat balasan pahala?”

Beliau balik bertanya, “Bagaimana menurut pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada hal yang haram, apakah ia akan terkena dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskan pada hal yang halal, maka ia akan mendapatkan pahala.”

(Hadist Shahih dikeluarkan oleh Muslim)
Sumber : Sahabat Muslim Berbagi Share